Sabtu, 14 November 2009

makalah manajemen sekolah

KONSEP DASAR

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Manajemen Sekolah

Dosen : Nur Hidayati, M.Pd.







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKA

 

KATA PENGATAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT yang memberikan karunia yang begitu melimpah kepada kami. Sholawat dan salam Allah semoga tetap terhaturkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga dan umatnya. Salah satu karunia Allah yang pantas kami syukuri adalah terselesaikanya makalah ini, yang kami beri judul ”Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah” sebagai salah satu tugas mata kuliah Manajemen Sekolah.

Pada kesempatan ini juga kami haturkan banyak terimakasih kepada beliau Ibu Nur Hidayati, M.Pd., sebagai dosen pengampu pada mata kuliah tersebut. Kepada semua pihak yang telah ikut serta membantu penyelesaian makalah ini kami juga haturkan banyak terima kasih.

Tiada gading yang tak retak, tentunya dalam penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangannya. Untuk itu, kami tunggu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang budiman.

Akhirnya Nasrul minallah wafatkhun qarib.

Purworejo , 19 Oktober 2009

Penyusun.

 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini turut mempercepat laju perkembangan ekonimi dan sosial, yang mempunyai implikasi penting terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dituntut untuk mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap laju perkembangan tersebut. Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan dari tingkat pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.

Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.

Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.

Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasisi Sekolah (School Based Management).

                                              
BAB II
KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN1
 
A. Kerangka Konsep
               Shrode Dan Voich (1986), menyatakan bahwa Kerangka Dasar Manajemen meliputi: ” Philoshopy, Asumtions, Principles, adn Theory, wich are basic to the study of any discipline of management” (falsafah, asumsi-asumsi, prinsip-prinsip, dan teori yang menjadi landasan bagi manajemen). Falsafah merupakan pandangan atau persepsi tentang kebenaran yang dikembangkan dari berpikir praktis. Falsafah ini yang dijadikan dasar untuk membuat asumsi-asumsi dan dari asumsi ini lahir prinsip-prinsip yang dihubungkan dengan kerangka atau garis besar untuk bertindak. Seperangkat prinsip yang berkaitan satu sama lain dikembangkan dan diuji dengan pengalaman sebelum menjadi suatu teori. Untuk seorang manajer, suatu teori tentang manajemen sangat berfungsi dalam memecahkan permasalahan yang timbul. Oleh karena itu, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, teori tentang manajemen merupakan landasan bagi manajemen.
B. Deskripsi Konsep
1. Esensi Falsafah Manajemen
               Setiap jenis pengetahuan termasuk juga pengethuan manajemen mempunyai ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimolgi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan manajemen itu di susun. Didalam pengetahuan menejemen, falsafah pada hakeketnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berpikir efektif dalam mmecahkan masalah-masalah manajemen.


2. Esensi Teori Manajemen
               Pada hakeketnya teori manajemen mempunyai karakteristik yang secara garis besar dapat dinyatakan: 1) mengacu pada pengalaman empirik, 2) ada keterkaitan antara satu teori dengan teori yang lain, 3) mengakui kemungkinan adanya penolakan.
3. Esensi Prinsip Manajemen
Dalam praktik manajemen prinsip-prinsip dasar sangatlah dipentingkan antara lain untuk: 1) Menentukan visi dan misi; 2) menentukan cara bekerja; 3) memilih pekerja dan cara pengembangannya; 4) memilih prosedur kerja; 5) menentukan tugas-tugas dan batas-batasnya; 6) menentukan sistem dan besarnya imbalan. Semuanya itui dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktifitas kerja.
4. Kegiatan Praktik Manajerial
Praktik manajerial mencakup bagaimana cara mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai sumber untuk mencapai tujuan organisasi dengan melibatkan orang, teknik, infrmasi, dan struktur yang dirancang. Kegiatan ini meliputi banyak aspek, namun yang paliang esensial yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengontrolan.(Fattah, 2009:11-13)
5. Sumber Daya Pendidikan
Dalam pendidikan, jenis sumber daya berdasarkan ruang lingkup keterlibatannya ke dalam penyelenggaraan pendidikan di kelompokkan ke dalam sumber daya pendidikan dalam sekolah dan luar sekolah. Apabila dilihat dari segi tugas pokoknya, dibedakan menurut tenaga teknis, tenaga administratif, dan tenaga penunjang.


 
 
BAB III
Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah
 
1. Latar Belakang
Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS menyebutkan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk melaksanakannya tentunya sangat diperlukan manajemen dalam penyelenggaraan pendidikan. UU ini juga mengamanatkan dengan tegas bahwa setiap warga negara berhak mendapat layanan pendidikan bermutu.
 
Pendidikan yang bermutu tidak hanya diukur dari produk (output), tetapi terkait dengan input dan proses penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu upaya dalam meningkatkan mutu, layanan pendidikan harus melibatkan stakeholders pendidikan, khususnya masyarakat dan orang tua peserta didik. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan inovasi dalam pelibatan masyarakat dan orang tua peserta didik untuk peningkatan mutu pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di era otonomi daerah.
Hasil penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa implementasi MBS secara benar dan konsisten dapat meningkatkan mutu pendidikan anak secara signifikan karena keterlibatan masyarakat dan orang tua sesuai dengan peranannya masing-masing.(Zuraidah,2009:5-7)

2. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah

Sekolah sebagai institut (lembaga) pendidikan, merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat suatu bangsa. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. Sekolah sebagai institut lembaga pendidikan perlu dikelola, di-menej, diatur, ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal.

Manajemen Berbasis Sekolah ( School-Based Management) pada hakikatnya merupakan salah satu model sistem pengelolaan sekolah yang memberikan kewenangan lebih luas dan kekuasaan lebih banyak kepada institusi sekolah untuk mengurus kegiatan sekolah sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan sekolah yang bersangkutan tanpa bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

.

Menurut Mochram (1992) Manajemen Berbasis Sekolah bertujuan agar otonomi sekolah dan parsitipasi masyarakat atau Local Stakeholders mempunyai keterlibatan yang tinggi . sehingga menurut Roger Scott (1994), Manajemen Berbasis Sekolah memberikan peluang kepada guru dan kepala sekolah untuk mengelola sekolah menjadi lebih efektif karena adanya partisipasi dan rasa kepemilikan dan keterlibatan yang tinggi dalam membuat keputusan. Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, namun tetap disertai seperangkat tanggung jawab yang harus dipikul.2 http://sdnkalipang01.multiply.com/journal/item/

3. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah dapat diartikan sebagai wujud dari “Reformasi Pendidikan” yang menginginkan adanya perubahan dari kondisi yang kurang baik menjadi kondisi yang lebih baik dengan memberi kewenangan (otorita) kepada sekolah untuk memberdayakan diri. Manajemen Berbasis Sekolah pada prinsipnya menempatkan kewenangan yang bertumpu kepada sekolah dan masyarakat, menghindarkan format sentralisasi dan bikroratisasi yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi manajemen sekolah.

Manajemen Berbasis Sekolah adalah bentuk reformasi pendidikan yang pada prinsipnya sekolah memperoleh kewajiban (responsibility), wewenang (outhority), dan pertanggung jawaban (accountability) yang tinggi dalam meningkatkan kinerja terhadap stakeholders. Manajemen Berbasis Sekolah memilki potensi yang besar dalam menciptakan kepala sekolah, guru, dan pengelola sistem pendidikan (administrator) secara profesional.

Pemberian kewenangan dalam pengambilan keputusan dipandang sebagai salah satu bentuk otonomi di tingkat sekolah, pemberdayaan sumber-sumber (resourse) sehingga sekolah mampu secara mandiri dalam menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, memanfaatkan, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan keberhasilan programnya kepada setiap pihak yang berkepentingan (stakeholders) pendidikan di sekolah.

Pemberian otonomi yang lebih besar dengan model Manajemen Berbasis Sekolah yang bertanggung jawab harus diberikan kepada kepala sekolah dalam pemanfaatan sumber daya dan pengembangan strategis Manajemen Berbasis Sekolah, sesuai dengan kondisi setempat. Dengan mengadaptasi konsep desentralisasi sebagaimana diungkapkan oleh Gordon, dkk (1990), maka konsep otonomi merupakan tindakan desentralisasi yang dilakukan oleh lembaga yang lebih tinggi ke tingkat bawah yang merupakan proses pendelegasian. Kekuasaan mulai dari tingkat Nasional (pusat) sampai dengan tingkat sekolah, bahkan sampai di tingkat kelas (guru kelas).

Sehingga dapat dsimpulkan bahwa konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah adalah manajemen yangbernuansa otonomi, kemandirian dan demokratis.

a) Otonomi, dimaknai sebagai kewenangan sekolah dalam mengaturdan mengurus kepentingan sekolah dalam mencapai tujuan sekolah untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik.

b) Kemandirian, dimaknai sebagai langkah dalam pengambilan keputusan,tidak tergantung pada birokrasi yang sentralistik dalam mengelola sumberdaya yang ada, mengambil kebijakan, memilih strategi dan metode dalammemecahkan persoalan yang ada, sehigga mampu menyesuaikan dengan kondisilingkungan dan dapat memanfaatkan peluang - peluang yang ada.

c) Demokratif, dimaknai sebagai keseluruhan elemen-elemen sekolah yang dilibatkandalam menetapkan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasipelaksanaan untuk mencapai tujuan sekolah untuk terciptanya mutu pendidikan sehinggamemungkinkan tercapainya pengambilan kebijakan yang mendapatdukungan dari seluruh elemen-elemen sekolah.(suyanto,2009:4)

4. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Karakterisitk Manajemen Barbasis Sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan Input, Proses, Output Pendidikan.

1. Input Pendidikan

a) Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.

b) Tersedianya sumber daya yang kompetitif dan berdedikasi.

c) Memiliki harapan prestasi yang tinggi.

2. Proses Pendidikan

a) Efekttivitas dalam proses belajar mengajar tinggi.

b) Kepemimpinan yang kuat.

c) Lingkungan sekolah yang nyaman.

d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.

e) Tim kerja yang kompak dan dinamis.

f) Kemandirian, partisipatif dan keterbukaan (transparasi).

g) Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

h) Responsif, antisipatif, komunikatif dan akuntabilitas.

3. Output yang diharapkan

Tercapainya tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan secara umum.

5. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Tujuan Umum MBS :

Memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian otonomi kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.

Tujuan Khusus MBS :

1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang ada.

2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

3) Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada masyarakat.

4) Meningkatkan persaingan yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang ingin dicapai.

http://neka85.wordpress.com/2009/03/10/konsep-manajemen-berbasis-sekolah-dan-dewan-sekolah/

tujuan dilaksanakannya MBS peningkatan efesiensi, peningkatan mutu, peningkatan pemerataan pendidikan. http://riwayat.wordpress.com/2008/07/02/konsep-manajemen-berbasis-sekolahmbs/

 
                                              
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar